Bercermin pada Een

Mari bertekad untuk berbuat bagi orang lain sesuai kapasitas dan kemampuan kita, sebagaimana Een telah berbuat, sekalipun dalam ketidakberdayaan fisik!

TERENYUH sekaligus malu rasanya ketika membaca tentang sosok bernama Een Sukaesih (44), gadis asal Kampung Batukarut, RT 1 RW 6, Desa Cibeureum Wetan, Kec. Cibeureum, Kabupaten Sumedang. Dalam kondisi lumpuh, tubuh kurus itu dengan ikhlas membagi ilmu kepada anak-anak tetangganya.

Lulusan D-3, jurusan Bimbingan dan Penyuluhan IKIP (kini UPI), dalam kamar seluas 3 X 2 meter, dengan setia setiap hari mengajar mata pelajaran umum dan agama. Dinding tembok kamarnya dijadikan semacam papan tulis(“PR”, 12/12). Luar biasa!

Terus terang, ada sesuatu yang menyentuh perasaan ketika gadis pintar itu disebutkan gagal jadi pegawai negeri sipil (PNS) juustru saat menjelang prajabatan. Penyakit radang tulang mengubur impiannya untuk menjadi guru sekolah. Ijazah diploma tiga yang diraihnya lewat beasiswa Supersemar, boleh jadi kini tak lagi bisa menolongnya untuk menjadi pegawai negeri bahkan swasta. Kondisi tubuhnya yang lumpuh, tidak bisa menopangnya berdiri. Nasib baik seolah tidak berpihak kepada dia, atau Tuhan memiliki rencana yang lebih baik bagi Een?

Lepas dari rasa iba, kita sudah sepatutnya menyatakan rasa salut an merunduk malu atas apa yang saat ini diperbuat Een. Kita juga sepantasnya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan bahwa Een masih diberi nalar yang sehat, jiwanya kuat sehingga penyakitnya tidak mempengaruhi aspek psikis. Buktinya, ia masih bisa membagi ilmu kepada anak-anak tetangganya, tidak berputus asa, dan tidak menarik diri dari lingkungannya. Sungguh satu perbuatan terpuji dan patut diteladani.

Lalu, mari bersama-sama membaca diri kita dan bercermin pada Een, sudah bebuat apa kita selama ini? Jika kita saat ini kita diberi kesehatan jasmani, sudahkah anugerah yang tidak terhingga tersebut dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya bagi orang lain? Mungkin sebenarnya apa yang dikerjakan kita selama ini lebih banyak mengambil manfaat untuk kita sendiri, tanpa peduli orang lain. Sesungguhnya kita lebih cenderung egois, ketika mengerjakan sesuatu lalu berdalih demi profesonalitas. Padahal, sebenarnya kita hanya pintar mencari alasan untuk mencari “pembenaran”.

Sekali lagi, mari kita bercermin pada Een atau jadikan Een sebagai cermin, tatkala kita mencermati bayangan diri kita sendiri. Dia yang lumpuh begitu telaten mendidik anak-anak tetangganya. Sementara, kita yang diberi anugerah sehat dan lengkap jasmani, kerap rikuh dan sulit untuk mengajar pada keluarga terdekat sekalipun. Kita kerap alpa untuk mendidik diri kita, apalagi untuk mendidik orang lain.

Dengan bercermin pada Een, mudah-mudahan kita dapat mengamati bayangan diri kita yang sesungguhnya gelap, karena belum mampu berbuat yang positif bagi orang lain. Sebab, kita juga lebih banyak merugikan orang lain ketimbang memberi terang kepada dan kebahagiaan.

Kini, saatnya untuk memulai dari menyatakan rasa syukur atas anugerah sehat yang kita terima. Setelah itu, mari bertekad untuk berbuat bagi orang lain sesuai kapasitas dan kemampuan kita, sebagaimana Een telah berbuat, sekalipun dalam ketidakberdayaan fisik!***

Dikutip dari : Tajuk Rencana “PR” 14 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.