Kalau jaman SMP saya dulu iring-iringan “api PON” dari Mrapen, Jawa Tengah menuju Jakarta (bahkan mungkin keliling Indonesia dulu, saya kurang tahu
) melalui daerah saya, disambut dengan meriah, arak-arakan obor pelajar SMP, SMA, mengiringi nyala abadi tersebut. Tapi kini, obor Olimpiade yang tingkat dunia, di Indonesia hanya dibawa keliling Senayan. Obor Olimpiade takut dengan demo. Ya, Obor Olimpiade kini disambut dengan demontrasi alias demo di Indonesia.
Akhir-akhir ini hampir segala sesuatu disambut dengan demo. Tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Sedunia diperingati dengan demo oleh para buruh. Tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional disambut dengan demo oleh para pendidik (khususnya honorer). Tanggal 20 Mei nanti adalah Hari Kebangkitan Nasional, siapa yah yang sudah siap mendemo?
Saya jadi ingat cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis. Para Haji dari Indonesia berbondong berdemo menghadap Tuhan karena mereka dimasukkan ke neraka.
Apalagi nanti tanggal 12 Mei, mengingat peristiwa DEMONSTRASI besar-besaran yang terjadi 10 tahun yang lalu.
Demonstrasi sebagai wujud demokrasi saya setuju-setuju saja asal tidak anarkis, asal bukan DEMOCRAZY.
Ada demo yang ditunggu-tunggu di tempat kerja saya, yaitu DEMO MASAK.
DIarsipkan di bawah: Renungan, Umum, intermezo | Tagged: Buruh, Demo, Demonstrasi, Hari Buruh, Hari Kebangkitan Nasional, Hari Pendidikan, Pendidikan


















